About

Terlahir dengan nama Dwi Sutanto, akan tetapi pas waktu nyari akte petugasnya agak error jadi tertulis "Dwi Susanto". Dan nama itulah yang kalian kenal hingga saat ini.

Sekitar 10 Km arah keselatan kota Reog Ponorogo yakni tepatnya desa Jabung adalah tempat dimana aku menghabiskan masa kecilku. Hingga sekarang tentunya. Pendidikan mulai dari Tk nol kuecil sampai D1 kujalani di Ponorogo. Sekedar memberi tahu bahwa sebelum berkecimpung didunia IT dulunya aku ngambil jurusan Bangunan(ini sih salah jurusan soalnya tak kirain cuma nggambar eh ternyata disuruh pasang batu bata segala pas praktek) pas waktu di SMK. agak gak nyambung kan sama yang sekarang kujalani. tapi biarlah yang penting kita fokus dan tetep berdo’a Insya Allah bisa maksimal.


Rumah dimana aku dibesarkan, di belai dengan kasih sayang, disentuh dengan semua kebijaksanaan

Tahun 2002 lalu, penulis lulus dari SMK Negeri I Jenangan, Ponorogo Jurusan Bangunan Gedung. Sebelum lulus, ia pernah mengikuti kursus bahasa Inggris di sekolahnya, dimana pada akhir program semua peserta diwajibkan untuk mengikuti outing program di Yogyakarta. Saat itulah pemuda kelahiran Ponorogo, 3 Agustus 1983 ini berkenalan dengan seorang turis warga negara Amerika Serikat bernama Mimi Anzel. Perkenalan pun terjadi, dan sejak saat itu komunikasi diantara mereka terus berlanjut melalui email.

Sebuah alasan sederhana mengapa ia dulu memilih SMK adalah agar setelah lulus ia bisa secepatanya bekerja. “Saya memang dari keluarga kurang mampu, sehingga orang tua yang pekerjaannya hanya tani pun menyarankan agar saya memilih SMK agar bisa langsung bekerja,” kata bungsu dari lima bersaudara pasangan Sukirman dan Amirah ini.


Teman seperjuangan di STM, mengingat perjuangan di kala lampau sebagai rambu untuk hari depan

Diceritakan Dwi, setamat SMK dan sambil menunggu pekerjaan di Ponorogo, dirinya memutuskan untuk melanjutkan ke program pendidikan satu tahun di bidang Teknologi Informasi, program Community College (CC) namanya. CC merupakan sebuah program kerja sama antara pemerintah Kabupaten Ponorogo dengan Dikmenjur. “Sebelumnya memang serasa sulit untuk melanjutkan kuliah, tapi setelah melihat dengan detail program itu, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung,” katanya.

Program ini, ungkap Dwi, sangat cocok bagi mereka yang kurang mampu tapi ingin kuliah, dan bisa dijadikan alternatif. Karena program CC lebih mudah dijangkau dari rumah serta dengan biaya lebih murah. “Melalui program ini maka teknologi serasa lebih dekat ke daerah, sehingga tidak perlu jauh-jauh keluar kota demi mendapatkan hal yang sama,” ungkap Dwi tentang program CC yang diikutinya selama setahun.

Dwi mengakui, dengan jadwal kuliah pagi hingga siang, ia mampu menggunakan waktu yang lain untuk membantu meringankan beban orang tua. Setelah waktu kuliah selesai, sore harinya ia manfaatkan untuk mengajar madrasah di desanya, Jabung. “Sebuah pengalaman sangat berharga saya peroleh dari mengajar itu. Saya bahkan pernah mendirikan kursus bahasa Inggris bersama beberapa teman dengan target anak-anak di lingkungannya sendiri,” paparnya.


Melepas kangen dengan anak-anak madrasah

Setelah menamatkan program CC, penggemar travelling ini pun mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Program Diploma 3 PENS-ITS setelah melalui seleksi. “Hanya sayang setelah dinyatakan diterima saya pun berpikir tidak akan mampu untuk menanggung biaya yang cukup besar. Awalnya saya hanya berniat untuk mengikuti tes saja, dan kalau pun lulus sangat sulit melanjutkan kuliah, disebabkan tidak adanya biaya. Waktu itu saya benar-benar pasrah,” katanya mengenang.

Tapi Allah ternyata berkehendak lain. Saat itu, cerita Dwi, tahun 2004 menjelang tahun baru Islam, di Ponorogo digelar acara rutin Suroan. Berbagai agenda kegiatan digelar bersamaan dengan peringatan hari ulang tahun Ponorogo. “Saat itulah Mimi Anzel warga negara Amerika yang dikenalnya di Yogyakarta tahun 2002 menyatakan akan datang ke Ponorogo, berdasarkan undangan dari guru bahasa Inggris tempat saya mengikuti kursus semasa SMK. Sungguh saya tidak punya firasat apa-apa akan kedatangan Mimi Anzel, yang ada hanya kegembiraan, karena selama ini saya hanya berhubungan lewat email,” katanya.


Saat Mimi dan Jerry berkunjung kerumah, tahun 2007

Tapi rupanya kehadiran Mimi Anzel berkah bagi Dwi Susanto. Karena meski tidak disangka-sangka sebelumnya, ternyata warga Amerika Serikat itu bersedia membiayai kuliahnya. “Awalnya saya ditanya tentang keinginan, dan saya beritahukan kalau saya punya keinginan besar untuk bisa kuliah yang kebetulan sudah dinyatakan diterima di PENS ITS, tapi karena tidak memiliki biaya niat itu saya kubur dalam-dalam,” kata pemilik IPK 3,63 dan nilai TOEFL 520 ini.

Apa jawaban Mimi Anzel? Di luar dugaan ternyata ia menyatakan keinginannya untuk membantu biaya kuliah sekaligus biaya hidup selama di Surabaya. “Momen inilah yang meyakinkan saya bahwa Allah benar-benar memberi rezeki dari jalan yang tak terduga-duga,” katanya.

Sekarang, kata Dwi yang ditemui Jumat (23/3/2007) siang, menyatakan bersyukur atas apa yang telah diperolehnya. Lebih bersyukur lagi Dwi juga dinyatakan sebagai salah satu mahasiswa asal Program CC yang berhak untuk mengkuti program magang di Amerika Serikat, setelah melalui beberapa rangkaian tes, termasuk TOEIC dengan skor 775 dari minimal 600 yang disyaratkan.


Momen pas wisuda

“Ketika prestasi lulusan dan kesempatan mendapatkan magang di Amerika Serikat saya sampaikan Mimi Anzel, dia sangat bergembira dan menyatakan tidak menduga sebelumnya. Itulah sebabnya ia akan hadir di acara wisuda besok. Sungguh saya tidak menyangka demikian besarnya perhatian dia kepada saya. Sungguh ini anugrah yang sebelumnya hanya sesuatu yang saya jadikan angan-angan untuk bisa ke Amerika,” kata Dwi.

Subhanallah, Alhamdulillah, AllahuAkbar. Memang hanya dengan kuasa-MU ya Allah, semua ini bisa terjadi. Tak akan habis nikmat ini untuk disyukuri.

Catatan: Sebagian besar tulisan diambil dari website ITS dan yang lain:

http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=3519

http://www.surya.co.id/web/index.php?option=com_content&task=view&id=4901&Itemid=34&font=dec

Advertisements

3 Comments Add your own

  • 1. khuclukz  |  November 22, 2007 at 12:50 am

    bajak pertamax ™

    kayake pernah kenal nech!! artis ya kang!!

    Reply
  • 2. arifudin  |  January 5, 2009 at 9:19 am

    salamkenal aja kang 🙂

    Reply
  • 3. naimul  |  January 6, 2009 at 4:17 am

    TOP
    sukses selalu …

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d bloggers like this: